Saturday, 1 March 2014

// // 4 comments

Long Distance Relationship




Roger sudah lama menjalin hubungan bersama Mila. Dari semasa masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Hubungan mereka terus berjalan dengan lancar, mereka juga saling melengkapi, mereka juga sering terlentang bareng dibawah hujan, sambil menghitung air yang turun.

Mereka juga disebut pasangan paling mesra disekolahnya, saking mesranya, pernah suatu saat ketika Roger tidak membawa motor, mereka malah numpang sama mobil atap terbuka (baca: kolbak), so sweet. Tapi sayang setelah tahu kalo Mila dan Roger bakalan kuliah di Universitas yang berbeda. Roger kuliah di UB (Universitas Bulan) dan Mila di UIB (Universitas Inti Bumi) enggak kebayang kan sejauh apa jaraknya? 

Ketika mereka mau ketemuan berarti Roger harus menempuh jarak 1 juta tahun cahaya, Roger harus menembus lapisan atmosfer, tersangkut di lapisan ozon, tabrakan sama meteor, terkapar di kerak bumi, dan barulah Roger sampai di inti bumi dengan keadaan sakaratul maut. Jadi ketika Roger berangkat umur Mila masih 18 tahun dan diperkirakan ketika Roger sampai di inti bumi Mila sudah berumur 30 tahun, punya 1 suami + 2 orang anak. Oleh karena itu sekarang jarak jadi masalah.

Roger    : Mil, aku mau tanya sesuatu nih, boleh?

Mila       : Oh boleh ko Ger, mau tanya apaan?

Roger    : Hmm, kamu maunya aku basa-basi dulu atau langsung to the point?

Mila       : Aku sih gimana kamu, mau diajak keliling Monas dulu juga enggak apa-apa kok.

Roger    : Kamfret, serius ini.

Mila       : Apa? Kamu maunya keliling ke Binus? Jauh amat yang deket aja kek.

Roger    : MILAAA!!  Bisa enggak becandaanya disimpen dulu?

Mila       : Iya bisa ko Ger, tadi katanya mau nanya, apaan?

Roger    : Jadi gini, kan kita udah mau lulus nih. Dan seperti yang kamu tau nanti kampus kita tuh                     berbeda, jadi aku khawatir sama hubungan kita.

Mila       : Oh itu ya. Aku juga bingung mau dibawa kemana hubungan kita ini. Kalo aku terserah                       kamu, maunya gimana?

Roger    : Err, kalo aku.. maunya hubungan ini terus jalan. Tapi aku gak yakin 100% sih. Kalo kamu                gimana?

Mila       : Aku juga sama kayak kamu. Aku takut nanti pas aku jauh dari kamu, kamu malah                            mendua.

Roger    : Enggaklah mil, aku gabakalan gitu. Jadi menurutku kita jalanin aja dulu, oke?                                    Ini mungkin yang terbaik.

Mila       : Oke, jalanin aja dulu.


"

                                                                                               
Yap, cerita diatas emang acak-acakan banget, ya kan? Oke, kita anggap saja cerita itu mulus. 

Nah, dari cerita diatas kita bisa lihat tentang sepasang kekasih yang bingung mau dibawa kemana hubungannya gara-gara masalah jarak.

Jarak emang musuh terberat buat cinta, karena kalian tahu cinta tak akan berdaya jika dipisahkan oleh jarak. Dari cerita diatas juga, kita bisa lihat bahwa pada akhirnya mereka memilih buat “Kita jalanin aja dulu.” Menurut saya sendiri, kalimat itu adalah sebuah kalimat ketidakyakinan yang tertunda atau mungkin bisa kalimat putus yang tertunda. Soalnya “Kita jalanin aja dulu.” Itu enggak banget. Kesannya, seperti pasrah aja gitu.

Mungkin ketika dipisahkan jarak, banyak yang lebih memilih bertahan, tapi akhirnya kandas ditengah jalan karena udah enggak kuat, pacaran sama handphone terus.

Long Distance Relationship atau lebih beken disebut LDR emang pernah tenar beberapa tahun atau bulan belakangan ini. Hubungan ini ceritanya hubungan jarak jauh, mereka mengandalkan kepercayaan pada masing-masing pasangannya, apakah dia akan setia di tempat yang jauh disana? Mana ada yang tahu.

Selain menyiksa diri sendiri, karena pada dasarnya para pelaku  LDR itu sama kayak jomblo, kemana-mana sendiri, malem minggu tetep dirumah, kalo kangen malah nyiumin layar handphone, kemana-mana yang digandeng cuma handphone. Dan ketika ditanya,

Orang Sirik :“Sendiri aja nih? Jomblo yah?”

Pelaku LDR :“Err, enggak lah gue udah punya pacar kok.”

Orang Sirik  :“Mana buktinya, kok sekarang sendirian?”

Pelaku LDR  :“Nganu, pacar gue kesangkut di lapisan ozon.” #KemudianHening





“Waiting for your call, I'm sick, call I'm angry
Call I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember
Butterfly, Early Summer
 
It's playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet...” 

– Secondhand Serenade “Your Call”

Oh, jarak memang pembunuh cinta yang sangat ampuh, bahkan ketika cinta itu belum sempat tumbuh*. Banyak pasangan berusaha menyangkal semua dugaan kebanyakan orang tentang LDR, banyak dari mereka berusaha untuk betahan dan seolah-olah ingin menunjukan bahwa jarak itu bukan apa-apa bagi cinta, lalu hasilnya? Gagal dan mungkin hanya sedikit dari mereka yang masih bertahan. Cinta itu memang sangat sulit dijaga. Saat dekat saja cinta bisa dibagi, apalagi saat berada jauh? 

“Cause I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight....” 

–Secondhand Serenade “Your Call”

Para penganut LDR hanya bisa melakukan kegiatan yang sangat membosankan, menunggu, mereka harus terus menunggu. Menunggu waktu dimana mereka bisa bertemu, tapi masalahnya apa iya mereka bisa kembali bertemu? Kalo tidak bagaimana? Lagi-lagi mereka harus menunggu untuk bisa menjawab itu, karena tidak ada satupun orang yang bisa mendahului waktu**.

“And I'm tired of being all alone
And this solitary moment makes me want to come back home...”

–Secondhand Serenade “Your Call”

Hingga pada akhirnya, kamu merasa bahwa memang ini harus berakhir, semua sudah mencapai batasnya. Inilah yang terbaik. Yang terbaik tidak selalu berakhir indah, itulah kenyataannya. Ketika kalian memutuskan untuk LDR, kalian mengira bahwa dengan bertahan dari jauhnya jarak adalah yang terbaik. "Kita jalanin aja dulu. Ini mungkin yang terbaik." Dan ketika benteng pertahanan kalian runtuh, kembali kata "yang terbaik" muncul, "Ini mungkin yang terbaik. Kita harus mengakhiri semuanya."


"We are the perfect couple, we're just not in the perfect situation." - Anonymous




*    : Dikutip dari Novel Cerita Hati - Bernnard Batubara
** : Dikutip dari Novel Tulang Rusuk Susu - Indra Widjaya

4 comments:

  1. saya jadi galau nih, rasanya saya ingin menelanjangkan status jomblo dari tubuh saya sambil tereak "EMAKK aku pengen punya pacar!!"""".. #salam jomblo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha jangan gitu, biarkan cinta itu datang karena terjatuh,bukan dicari karena kamu butuh :D #salam jomblo

      Delete
  2. Rasanya jarak itu bukan penghalang untuk sebuah hubungan, tetapi kurangnya komunikasi, yg kebanyakan menyebabkan hubungan LDR itu kandas di tengah jalan :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarak emang bukan penghalang tetapi pembunuh yang paling ampuh. Yap, dalam LDR komunikasi emang yang utama, tapi apa iya kita bisa tahan kalo tiap hari cuma bisa sebatas melihat wajah dan mendengar suara? :D

      Delete