Wednesday, 18 June 2014

// // 1 comment

Kebebasan itu Layak Diperjuangkan

Sebentar lagi liburan akan segera tiba. Tinggal menunggu detik-detik menuju hari dimana otak ini akan beristirahat dengan santai, menikmati libur yang bener-bener tanpa adanya tugas sekolah. Dan liburan kali ini itu sebenernya momennya pas banget. Gelaran Piala Dunia diselenggarakan tepat disaat para pelajar seperti saya sedang menikmati kebebasan berbatas di sekolah. Meski sebelumnya sempat diisukan bahwa Brasil belum siap untuk menggelar Gelaran Piala Dunia, tapi pada akhirnya Brasil berhasil menepis semua rumor itu. Dan pada tanggal 12 Juni kemarin Piala Dunia resmi dimulai, Opening Ceremony lumayan baik walaupun tidak dapat dikatakan istimewa. Dan hal yang masih saya ingat adalah ketika J.Lo muncul, dan bernyanyi. Mata saya salah fokus, mana fokusnya otomatis lagi.

Selain itu liburan kali ini sepertinya bakalan lebih panjang, karena ditambah libur awal bulan puasa. Ahh, sepertinya kepingan surga sudah berada di depan mata.

Tapi engga semua hari libur itu membawa kebahagiaan, terkadang liburan juga bisa membawa bencana bagi mereka yang engga punya jadwal apa-apa. Hingga pada akhirnya mereka akan merasakan saat dimana, ketika sekolah pengen libur, dan ketika libur pengen sekolah. Tapi dengan satu syarat sekolahnya engga belajar, alias bebas.

Itu tentu bencana, bagi pikiran dan juga untuk berat badan. Kamu yakin pas liburan maunya tiduran sambil ngemil mulu? Enggak takut ketuker mana pipi mana perut? Dirumah kerjaannya bangun - nonton tv - makan - tidur siang - bangun - mandi - makan - online - ketiduran. Sudah jelas berdasarkan rantai kegiatan tersebut, dapat dikategorikan bahwa mereka adalah para jomlo terkutuk.

Tapi tenang buat kalian yang pada liburan kali ini engga punya rencana untuk berangkat keluar kota atau kedunia fana yang jauh disana. Bukan berarti liburan kalian bakalan lewat begitu aja. Sebenernya liburan itu engga perlu tempat yang jauh. Tapi yang penting, nyaman atau tidaknya kamu ketika berada disana. Percuma berlibur ke luar negeri kalo kamu merasa engga nyaman.






Lho bukannya liburan ke luar negeri itu selalu nyaman, ya?


Engga lah, kamu bakalan risi kalo liburan ke luar negeri dimana di negara itu sedang terjadi perang. Apalagi kalo perangnya itu adalah perang dingin antara seorang cowok sama cewek ngambek plus lagi pms. Kita hanya bisa berserah dan pasrah.

Bukan hanya itu, terkadang pada hari-hari libur kita sering merasa bosan kayak engga ada kerjaan gitu. Nah, kalo misalkan itu udah mulai menyerang perasaan kalian sebaiknya cepet-cepet keluar cari udara seger. Cari gebetan baru terus putusin. Cari mantan terus ajak balikan.  Libur juga identik dengan kebebasan. Iya. Disaat libur kita bebas mau bangun jam berapa atau mau tidur jam berapa pun engga masalah. Kan kita jomlo, iya kan? *tos* Seolah-olah kita keluar dari sebuah siklus.

"Kebebasan tidak pernah secara sukarela diberikan oleh penindas, melainkan harus dituntut oleh mereka yang tertindas." - Martin Luther King, Jr

Berbicara tentang kebebasan saya punya satu cerita dari salah satu teman jauh saya. Jadi cerita singkatnya itu dia punya temen deket beda jenis, yang sebutlah mereka itu sedang pacaran. Nah, jadi ceritanya itu berawal dari sini :

Kira-kira 1 bulan kebelakang saya mendapat kenalan baru dari social media. Sebut saja namanya Mila. Awalnya kita bisa kenalan sih simple aja, waktu itu adalah malam minggu dan seperti biasa engga ada yang bisa saya lakukan di malam minggu kecuali melototin laptop sambil nyium-nyium foto Pevita Pearce. Saya iseng buka omegle.com. Tetapi berkat pengalaman yang sudah-sudah, saya memilih mode chat daripada video, soalnya banyak burung yang berseliweran disana dan saya tidak mau menjadi kotor.

Buat ngebuktiin kalo dia itu cewe beneran, bukan cewek pengkolan. Kami tukeran sosial media, dan setelah buktinya cukup kuat saya percaya kalo emang dia itu cewek tulen. Obrolan saya sama dia terus berlanjut sampai beberapa hari, dan dari beberapa hari itu dia udah bisa menceritakan tentang kehidupannya kepada saya. Ya, saya engga bisa nolak, tapi saya engga keberatan kok karena ketika seseorang bercerita, kita hanya perlu menyiapkan telinga untuk mendengarkan.

Setelah menceritakan secara detail, saya sedikit bingung dengan pikiran si Mila ini. Mungkin otak dia sudah terkontaminasi dengan bubuk abate dan sudah menyebar hingga ke hati, sehingga menimbulkan efek kebal terhadap rasa sakit hati dan patah hati. Hebat.

Dan sekarang saya mau berbagi cerita tentang hubungan Mila dengan Kekasihnya. Tentu saja sudah mendapatkan ijin dan sudah lulus sensor. Siapa tahu cerita ini bisa menjadi pelajaran buat kita, kalo cinta yang hebat itu engga harus bertahan sampe sekarat. Selamat menikmati. Mohon maaf bila ada kesamaan tempat, tokoh, dan alur cerita.

Mila punya pacar seorang cowok yang masih dedek-dedek alias unyu-unyu kayak knalpot panas. Kita sebut saja Roger.  Dilihat dari avatar twitternya dia itu seorang cowok ganjen. Kenapa? Karena photonya pake effect sexy lips. Saat itu perut saya mendadak sakit.

Mereka sudah pacaran selama kurang lebih 5 bulanan. Bulan-bulan pertama mereka mengalami fase dimana dunia serasa milik mereka berdua, dimana ngeliat orang ngupil bakalan seru dan dimana topik obrolan itu enggak pernah habis. 

Tetapi berbeda setelah memasuki bulan-bulan berikutnya. Mila merasa kalo si Roger udah enggak se-respect dulu, engga seperhatian kayak dulu. Bahkan Mila pernah melihat Roger sedang kopdar dengan mantan-mantannya. Serem.

Hingga pada akhirnya hubungan itu terus menunjukan grafik menurun. Chat mereka sudah berotasi dari kata “Baby” menjadi “Bab*i”, dari “kamu lagi ngapain?” menjadi “kamu dimana sama siapa?” dari “kamu baik-baik ya, disana.” menjadi “Oh gitu. Yaudah have fun deh.” Sebuah hubungan itu memang sangat rentan terhadap perubahan apalagi yang berlabel pacaran, gampang banget berubahnya kayak cewek abege.

Nah singkat cerita, Mila ngerasa udah engga tahan. Dia bilang pacarnya itu suka ngelarang-larang, mau pergi ke mal pasti dilarang kalo perginya engga sama pacarnya. Mentionan dikit langsung ditanya itu siapa. Mila bilang, justru dengan dilarang-larang dirinya makin nekad buat ngelakuin hal-hal yang dilarang itu. Sehingga pada akhirnya Mila merasa kalo dia itu seperti dikurung dan engga ngerasain kebebasan.




Saya menebak saat itu, bahwa bubuk abate yang selama ini meracuni otaknya sudah mulai pudar dan menghilang. Mungkin bubuk abate itu sudah lelah. Kasian. Mila berencana buat mutusin pacarnya itu. Inilah momen yang paling seru dan paling saya tunggu-tunggu.

Setelah pesan terakhir yang berisi bahwa Mila bakalan mutusin pacarnya itu terkirim ke saya. Tidak ada lagi kabar yang lainnya. Baru keesokan harinya ketika saya sedang menikmati bobo siang bareng Pevita, tiba-tiba hp saya berbunyi. Saya buka dan itu adalah bbm dari Mila. Isinya kurang lebih seperti ini :

Mila    : “Aku udah ngajak putus tapi dianya engga mau putus katanya dia engga bakal ngulangin kesalahannya lagi.”

Saya        : “Terus putusnya engga jadi?”

Mila         : “Iya engga jadi. Lagian aku juga masih sayang sama dia.”

Dasar ingus komodo -_-

Hari-hari berikutnya Mila semakin brutal, hari ini pengen putus besoknya engga mau putus karena takut engga bisa move on. Kegiatan itu terus menerus dilakukannya. Saya hanya bisa nge-iyain aja apa yang dia omongin. Hingga akhirnya dia putus sama pacarnya. Saya enggak seneng, karena besoknya mereka balikan lagi.

Tapi dengan begitu bukan berarti kegalauan dia berhenti. Malahan jadwal curhat semakin bertambah, dan dalam satu sesi curhat saya bisa mengabiskan waktu 10 menit buat ngebales. Bacanya aja udah bingung apalagi balesnya. Saya gatau mau ngomong apa.

Hingga pada akhirnya saya menjauh, mungkin karena efek kelamaan jomlo saya risi kalo hp itu bunyi terus. Dikit-dikit bunyi, dikit-dikit bergetar, dikit-dikit minta pulsa. Akhirnya secara perlahan saya mulai mundur. Dan setelah itu kami udah jarang kontakan lagi. Dan denger-denger Mila udah putus sama pacarnya yang dedek-dedek unyu. Sekarang dia udah punya pacar yang lain. 

Nah, dari cerita diatas kita bisa melihat kalo memang kebebasan itu sangat perlu, bukan karena kamu udah pacaran bukan berarti kamu berhak ngatur-ngatur dia. Saya pernah mengalami hal serupa hingga pada akhirnya saya yang malah kecewa. Padahal cara mengatur-ngatur itu adalah sebagai tanda kalo kamu engga mau kehilangan dia tapi sayangnnya justru dengan cara itu kamu bakalan benar-benar kehilangan dia.

Kebebasan bagi sebagian orang adalah berbuat sesuka mereka tanpa adanya larangan. Nah, mungkin cara lain yang lebih baik adalah bukan melarang tapi mendukung dan menemani. Ibaratnya begini. Jika dia minta ijin untuk bermain silet dan kamu melarangnya, pasti dia akan tetap melakukannya. Tapi berbeda jika kamu tidak melarang tapi menemani dia melakukan hal itu, dan ketika dia terluka kamu ada disana buat nolongin dia. Toh pada akhirnya dia engga akan ngelakuin hal itu lagi lantaran kapok.

Jadi buat kalian yang mungkin engga ngerasa bebas, atau kebebasannya direnggut orang lain. Kalian berhak memperjuangkan kebebasan itu. Termasuk dalam hubungan asmara, jika kamu sudah merasa tidak nyaman. Ya, jangan dipaksakan. Karena semakin kamu menahannya maka daya ledaknya semakin besar. Dia makin cinta tapi kamu makin engga punya rasa.

Dan ini adalah akhir dari postingan kali ini. Saya tidak bermaksud untuk menyuruh kalian berbuat bebas sebebas bebasnya tetapi bebas yang berbatas. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tidak baik untuk diri sendiri dan tidak baik untuk orang lain karena telah merebut hak mereka. Sekian dari saya. Bye.

Read More